"اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ - خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ - اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ - عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ .

9.2.11

Membaca Al Qur'an memakai Metode Lafziyah

Metodenya sebenarnya sederhana sekali. Saya yakin para sahabat di sini pun sudah pernah tahu :). Metode lafziyah ini diterapkan dalam beberapa tahap, yaitu :

I. Tahu arti per kata

1. Baca ayat per lafadz dulu, kemudian diartikan.

2. Satu ayat tersebut diulang-ulang hingga beberapa kali, sambil diberikan motivasi
    agar semangat :).

3. Jika sudah bisa, baru baca 1 ayat itu seutuhnya, sambil diiringi menyebutkan artinya. terus       diulang-ulang juga. Pelan-pelan saja bacanya. Hingga seperti kita baca bahasa Inggris, ketika baca kata, arti sudah mengikutinya.

Pengajar akan membimbing saat latihannya, dan sekalian memberikan makna dan pemahaman dari ayat tersebut, agar bisa meresap dan menggetarkan hati. Tapi pemahaman di sini baru penjelasan saja.

Fokusnya hanya baru ke dapat mengetahui arti per kata dari ayat tersebut. Tidak jauh-jauh sampai tahu ke struktur aturan bahasa arab, atau ke makna dan pemahaman ayatnya. Di tahap ini, belum sampai ke sana, tapi hanya fokus hingga menguasai arti per kata dari ayat tersebut.

Sifatnya bukan hafalan ayat, tapi karena membaca ayat yang diulang-ulang, maka akan hafal dengan sendirinya. Membaca berulang-ulang ini hingga paham dan meresap ke dalam hati ini, sebenarnya seperti yang diperintahkan oleh Allah SWT. Bukan membaca Al Quran asal membaca dan asal khatam

*** Untuk tahap awal, tidak perlu bingung/diajarkan dulu aturan tata bahasa Arab (Nahwu Shorofnya). Ini akan mengikuti dengan sendirinya. Menghapal per kata arab Al Qur'annya pada awalnya asal tahu artinya dulu.

II. Rajin ber-tadarus Al Quran
Tapi membaca Al Qur'annya pelan-pelan, sambil didalam hati mengikuti arti yang suda kita ketahui sebelumnya. Jika lupa, kita buka lagi pelajaran kita, dan ulang lagi baca ayat tersebut.


III. Tahap 3 : Pemahaman (membuat kesinambungan ayat ke ayat)

Dari mulai sudah terbiasa tadarus, arti sudah langsung diketahui (dalam hati), baru ke tahap ini. Pengajar akan menerangkan pemahaman ayat per ayat.

IV. Membaca Al Quran yang sudah dikuasai lafziyahnya, secara rutin.
Semoga dengan latihan membaca Al Qur'an seperti ini dapat menggores/meng getarkan dalam hati.
V. Berusaha berefek pada kepribadian

Karena selalu menggores ke hati (menggetarkan hati), lama-lama semoga dapat mengubah kepribadian. Walau tidak ada pribadi yang sempurna (selain Rasulullah), tapi minimal hidup kita selalu dicoba dengan berusaha menuju akhlakul karimah.

Ada 5 tahap. Masing-masing tahapan ada latihan dan evaluasinya (ya namanya juga belajar, maka harus ada evaluasi :)).

Tujuan metode ini diharapkan dapat membaca Al Quran seperti membaca koran. Nampak terlalu berlebihan ya? Insya Allah tidak. Allah yang akan membukakan hati dan memberi kemampuan itu, pada umatNya yang ingin belajar, benar-benar menjadikan Al Qur'an sebagai pedoman hidupnya, bukan hanya bacaan yang dilagukan semata.

Siapa yang dapat belajar Metode Lafziyah?

Siapa pun. Metode ini yang dipakai oleh temanku, sebagai ketua dan pembina Pesantren Al Mujaddid, untuk mengajarkan Al Qur'an secara gratis kepada seluruh santrinya dan juga kepada masyarakat secara umum. Masyarakat yang mau belajar, dengan berbagai latar belakangnya, yang bisa jadi terdiri dari bermacam-macam suku, bangsa, golongan, dan usia berapapun (dari yang sudah kakek-kakek, bapak-bapak, ibu-ibu, hingga remaja dan anak sekalipun).

Siapa pun dan berapa pun usianya, jika mau belajar, Insya Allah mereka dapat menguasainya. Sudah banyak contoh. Mereka hanya berbekal satu niat yaitu demi dapat menjadikan Al Qur'an benar-benar sebagai pedoman hidupnya, aturan hidupnya, dasar gerak langkah hidupnya, dan jiwa yang dalam tubuhnya mengalir darah Al Qur'an.

***

Inti dari Metode Lafziyah

Intinya adalah memang iqro. Mengikuti metode rasululloh dulu. Karena mau baca AQ yang bisa mengerti artinya, mau gak mau caranya adalah lewat perulangan. Diulang lagi, diulang lagi. Sehingga lama-lama tahu artinya.

Untuk aturan nahwu shorof, tidak diberikan diawal.
Tapi diberikan sesuai kebutuhan ayat per ayatnya. Diberikan pelan-pelan. Jadi tidak akan buat kita njelimet duluan. Sederhana. Kita mengikuti metode iqro. Baca dan baca. Baca lagi dan baca lagi. Sama saja dengan, ulang lagi, ulang lagi, dan ulangi lagi.

Zaman Rasululloh dahulu

Pada zaman rasululloh pun, tahap awal baca Al Qur'an ya hanya surat Iqro dan Iqro lagi. Karena selama berapa tahun (3 tahun kalau tidak salah), memang hanya surat Al Alaq saja (ayat 1-5) yang baru diturunkan oleh Alloh

Dan selama itu pula, umat muslim, pengikut rasululloh saat itu, hanya baca Surat Al Alaq saja terus berulang-ulang. Belum ada Al Qur'an seutuhnya seperti sekarang.

Tapi bagaimana mereka membaca Al Qur'an itulah yang beda dengan kita. Bagaimana mereka membaca surat Al Iqro itu sehingga dapat membentuk kepribadian seperti sahabat Nabi Abu Bakar, atau sahabat Nabi Umar bin Khotob, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib?

Mereka membaca seperti tahapan di atas. Maka baru dengan metode membaca Al Qur'an seperti metode Rasululloh itulah, yang akan mengubah kepribadian manusia menjadi berkekuatan ayat. Kekuatan Al Quran dapat meresap ke dalam hati. Sehingga Al Qur'an benar-benar dapat menjadikan ruh yang mengalir dalam tubuh kita. Energi yang kita keluarkan terdapat energi ruhani Al Qur'an. Yang semoga dengan menggunakan metode ini, kita dapat mampu bersama-sama berusaha menjadi seseorang yang kepribadian Al Qur'an. Amin.

Al Qur'an sebenarnya Makanan Ruhani Kita

Membaca al Qur'an sebenarnya adalah makanan untuk ruhani kita. Sama halnya seperti jasad yang butuh makan 3 kali sehari. Maka ruhani kita pun butuh makanan.
Karena jasad berasal dari tanah, maka makanannya pun berasal dari unsur tanah (beras,dll).
Tapi karena ruhani kita berasal dari langit, maka makanannnya pun hrs yang dari unsur langit juga , yaitu Al Qur'an yang sudah Allah turunkan.

Dalam satu hari, bukan hanya jasad yang kelaparan, seharusnya ruhani kita pun pasti sangat kelaparan sama seperti halnya jasad. Maka setiap hari, seharusnya kita memberi makan pada ruhani kita juga, yaitu lewat membaca Al Qur'an.

***

Memang..
Orang yang menguasai Al Qur'an, belum tentu ruhaninya pun menguasai Al Qur'an.
Karena memang Al Qur'an itu, kemauan antara manusia itu sendiri dengan Allah.

Tapi..
Apalagi orang yang tidak menguasai Al Qur'an.
Dimana dalam sehari saja, orang tersebut tidak pernah buka Al Qur'an.

Sehingga bagaimana Allah mau memberi penerangan dalam hati kita? Jika membuka Al Qur'an saja jarang?

Dan bagaimana pula Al Qur'an akan menjadi akhlak kita, karena setiap membacanya saja mengerti saja tidak?

Dan bagaimana Al Qur'an dapat menggetarkan hati seperti seharusnya terhadap orang beriman, jika setiap membacanya juga tidak pernah tahu arti ayatnya apalagi paham?


***

Susah juga sih kalau tidak langsung mengikutinya. Sepertinya jadi ada yang kurang tersampaikan. Tapi semoga tahap-tahapan di atas dapat ditangkap maksudnya :). Dan memang cara ini, sangat dibutuhkan pengontrol. Pengontrol ini yang harus super rajin, super disiplin dan super sabar. Hehe..Karena muridnya seperti saya kali ya :D. Kalau kayak para sahabat semua, sepertinya gurunya akan senang-senang saja ;).[Alivia]

Sumber
http://hajiku.blogspot.com/2006/04/membaca-al-quran-memakai-metode.html