Tanya : Apakah betul agar lebih dapat memaknai haji, salah satunya kita harus betul-betul menguasai lafziyah juz amma (minimal dari An Naas sampai Al Alaq)?
Tanggapan :
Dari pengalaman haji kemarin dan respon dari ibu-ibu lain (yang menyesal ketika berhajinya dulu belum menguasai lafziyah-- walau ada yang sudah berhaji ketiga kali), merasakan dengan cara Lafziyah ini sangat membantu sekali agar dapat memaknai haji. Malah jika melihat dasar mengapa pakai metode lafziyah, seharusnya justru bukan hanya jadi syarat haji saja, tapi juga jadi syarat ketika kita sholat sehari-hari, jadi syarat ketika kita tadarus membaca Al Qur’an, jadi syarat ketika kita mendengarkan ayat, dsb. Seluruh hari kita diwarnai oleh metode lafziyah.
Mengapa? Agar sholat kita bukan hanya sebuah gerakan tanpa dapat dirasai makna dan hikmahnya. Juga agar tadarus kita bukan hanya sekadar latihan melancarkan bacaan, melatih qiro’at, atau hanya mengejar khatam, tanpa pernah meresap dan menggesek ke dalam hati akibat kita tahu apa yang sedang kita baca. Apa itu metode lafziyah, dapat di klik di sini.
Tanggapan :
Dari pengalaman haji kemarin dan respon dari ibu-ibu lain (yang menyesal ketika berhajinya dulu belum menguasai lafziyah-- walau ada yang sudah berhaji ketiga kali), merasakan dengan cara Lafziyah ini sangat membantu sekali agar dapat memaknai haji. Malah jika melihat dasar mengapa pakai metode lafziyah, seharusnya justru bukan hanya jadi syarat haji saja, tapi juga jadi syarat ketika kita sholat sehari-hari, jadi syarat ketika kita tadarus membaca Al Qur’an, jadi syarat ketika kita mendengarkan ayat, dsb. Seluruh hari kita diwarnai oleh metode lafziyah.
Mengapa? Agar sholat kita bukan hanya sebuah gerakan tanpa dapat dirasai makna dan hikmahnya. Juga agar tadarus kita bukan hanya sekadar latihan melancarkan bacaan, melatih qiro’at, atau hanya mengejar khatam, tanpa pernah meresap dan menggesek ke dalam hati akibat kita tahu apa yang sedang kita baca. Apa itu metode lafziyah, dapat di klik di sini.
Cukupkah menguasai Lafziyah Juz’ama saja?
Yang saya alami sendiri, justru tidak cukup menguasai lafziyah juz’amma saja, tapi akan sangat membantu bila sudah menguasai lafziyah juz 1 dan bacaan sholat juga sebelum berhaji. Untuk juz'amma berguna ketika imam di masjid membacakan surat-surat juz'amma. Tapi untuk surat-surat lain (selain juz’amma), dibutuhkan penguasaan lafziyah (minimal) juz 1. Semoga dengan bekal itu, kita dapat mengikuti arti kata per kata ayat yang dibacakan. Karena kata-kata di juz 1, (sedikitnya) akan sering disebut lagi di surat-surat lain. Jika ada kata yang belum tahu, kemungkinan karena ada perbendaharaan kata baru yang belum ada di juz 1. Tapi selebihnya, insya Allah masih bisa mengikutinya. Hal ini akan membantu kita untuk memaknai setiap sholat.
Manfaat dari Metode Lafziyah
1. Sholat kita terasa sekali dekatnya dengan Allah, apalagi ketika imam membaca surat persis seperti yang baru saja kita hapalkan lafziyahnya ketika sedang menunggu waktu sholat. Benar-benar serasa Allah ada di pihak kita, Allah meridhoi kita, dan Allah sendiri yang sedang mengajarkan kita dan menguji kita lewat imam mesjid. Kapan lagi kita diajarkan oleh Allah?
Belajar sambil mendengarkan suara imam Masjidil Haram yang subhanallaah indahnya. Dan sungguh kesempatan yang sangat langka bahwa kita dapat mengerti dan juga ikut merasakan dahsyatnya ayat ketika imam tiba-tiba menangis sewaktu membaca surat dalam sholat. Atau ketika tiba-tiba imam bersujud lalu berdiri lagi hanya karena membaca ayat yang menyebut kata sujud. Dan kita mengikuti imam, bukan hanya sekadar karena sebelah kita ikut bersujud. Tapi kita mengikuti karena sebenar-benarnya kita mengerti ayat yang sedang dibaca oleh imam.
Ini benar-benar momen terni’mat saat berhaji, yaitu ketika kita benar-benar dapat sholat mengikuti imam besar dunia –level internasional—yang diikuti oleh jutaan jamaah di masjidil Haram, dengan sebenar-benarnya pemahaman lafziyah dari diri kita sendiri. Sholat kita terasa khusyu sekali.
2. Saat itu pula terasa sekali sholat kita sangat menyatu dengan iman dan kehidupan kita sehari-hari. Terbayang sebuah kehidupan yang dapat dijalani dengan satu imam yang seperti ini, dengan umat yang menyerahkan diri secara utuh pula. Ada satu imam yang menjadi panutan, yang dipercayai dan dipatuhi. Dan ada pula jamaahnya serasa seperti yang sedang sholat, benar-benar menjadi satu padu, serasi dan kompak demi menegakkan aturan Allah. Subhanallah.. Sungguh tidak dapat dibayangkan masa Rasulullah dulu ketika menjadi penguasa saat itu. Pasti benar-benar rapi, teratur, aman dan ni’mat terbesar. Dimana Rasulullah menjadi pemimpin sebuah negara saat itu (Islam). Lalu ketika berhaji, beliau sendiri yang memimpin berhaji, yang membina, menuntun pelaksanaan haii. Beliau sendiri yang menjadi imam, memimpin sholat. Hajinya pun dilaksanakan dengan seutuh-utuhnya makna dan sesempurna-sempurnanya kondisi. Dimana pada saat itu, kondisi sudah aman, Islam sudah menang, hal-hal bathil sudah hancur-lebur, jauh dari kemusyrikan, jauh dari korupsi biaya haji, jauh dari orang-orang yang hanya rekreasi mental semata hajinya, dsb. Tentu hajinya benar-benar meraih sesempurna-sempurnanya haji. Subhanallah.. Kapan akan terwujud lagi?
3. Selain itu, jika sholat kita sudah dapat menggunakan metode lafziyah ini, maka sangat berguna sekali melawan musuh utama para jamaah di mesjid. Yaitu NGANTUK! :).
Tidak sedikit para jamaah ketika sedang sholat justru tertidur! Saya masih tidak habis pikir bagaimana nilai sholatnya :). Tapi memang hal ini dimaklumi sekali. Saya pun mengalami hal yang sama. Rasa kantuk sangat sulit sekali dihilangkan. Candanya orang-orang di tanah suci ini, syaithan yang berkeliarannya saja sudah berpangkat jendral! Mungkin saking membayangkan godaannya yang beragam dan sulit.
4. Bayangkan saja, yang ingin menghabiskan waktu di masjid, bisa menunggu waktu sholat hingga 5-6 jam di mesjid. Dari jam 2 pagi kita sudah bangun untuk bersiap-siap. Lalu misal sampai mesjid jam 3. Sholat lail, thowaf, dan menunggu hingga waktu shubuh jam 6 pagi (kebetulan waktu shubuh jam 6). Selama waktu menunggu, apa yang kita lakukan di tengah udara masih dingin menusuk, badan lelah dan mata masih mengantuk? Apalagi jika sudah kena batuk dan pilek? Ada yang tidur lagi di mesjid, ada yang baca Al Qur’an dan duduk tertidur dengan Al Qur’annya. Tapi ada juga yang sukses tidak tidur, khusyu’ berdoa, khusyu’ membaca Al Qur’an, hingga tiba waktu sholat, dan mereka pun sukses mengikuti imam dengan sholatnya yang khusyu’. Waktu menunggu ini akan bertambah lagi bagi yang ingin menunggu waktu sholat dhuha tiba. Mereka ingin sholat dhuha di mesjid. Maka, akan menghabiskan waktu berapa jam di mesjid, duduk di lantai marmer yang bersih sekaligus dingin. Dengan udara yang sejuk atau menghantar tidur pula :). Benar-benar semuanya harus disiapkan dan ditargetkan dengan sekuat hati dan tenaga. Maka, metoda lafziyah pun membantu untuk pencapaian target kita.
5. Selain godaan mengantuk, ada pula godaan menonton :). Selama menunggu godaan untuk menonton kejadian atau beragam tingkah laku orang juga sangat besar. Apalagi jika kita mengejar target untuk sholat benar-benar dapat menghadap kabah tanpa dihalangi oleh manusia/tembok. Di sini godaannya sangat besar. Sepertinya tempat ini pun favorit para jamaah. Bersyukurlah untuk para ikhwan, karena sehalaman teras kabah itu khusus untuk jamaah laki-laki. Tapi untuk jamaah wanita? Sependek yang saya tahu, hanya ada satu area yang dapat ditempati khusus jamaah wanita, dan bila ada laki-laki, maka akan diusir oleh para askar di sana. Untuk jumlah jutaan jamaah, menempati area itu menjadi rebutan para jamaah. Situasi desak-desakan sering terjadi sesama para jamaah demi sholat langsung menghadap kabah. Ada yang sabar, ada yang mau membantu, tapi ada juga jamaah yang tidak sabar, tidak mau berbagi. Ada jamaah yang mau diatur oleh askar dan ada juga yang tidak. Bagi yang tidak-tidak ini, kemungkinan besar terjadi ribut. Dan kejadian ini biasanya akan menjadi tontonan yang menarik. Untuk menyikapi ini, semangat dan target kitalah yang akan mengalahkan ini semua, konsentrasi kita pada Al Qur’an dan tadarus dengan sebenar-benarnya menjadi diuji :). Dan metode lafziyah akan membantu peningkatan konsentrasi kita ketika membaca Al Qur’an. Bahkan bukan hanya membantu konsentrasi semata, tapi juga kekhusyu’an dan hati kita akhirnya dapat disentuh. Hati yang sering disentuh, diggesek lagi, digesek lagi oleh ayat, semoga akhirnya kepribadian kita pun terlahir dari hati yang disentuh Al Qur’an. Amin. [Alivia]
Sumber
http://hajiku.blogspot.com/2006/04/manfaat-lafziyah.html